Dia teman saya. Awal tahun kemarin dia memutuskan untuk meninggalkan masa lajangnya, menikah dengan teman satu kampusnya dulu. Mereka pacaran cuma 6 bulan dan akhirnya mutusin menikah. Ini yang saya sebut serendipity! Kita hanya menunggu orang yang tepat di saat yang tepat, and… welcome to the world;)
Katanya pas kuliah dulu boro-boro punya pikiran kalo cowok itu bakal jadi jodohnya. Soalnya temanku ini udah punya cowok dan cowok itu juga udah punya cewek. Pas awal-awal di Jakarta, teman saya ini sering ketemuan ma cowok itu, namanya juga 1 almamater sama-sama berurbanisasi di Jakarta demi segenggam berlian. Kalo ceweknya cowok itu ke Jakarta, mereka juga jalan-jalan keliling Jakarta + shopping bareng. Lama setelah itu jadi jarang ketemuan lagi karena sibuk dengan kerjaan masing-masing. 5 tahun kemudian, tuh cowok hubungin teman saya itu lagi, mo ngajak ketemuan, sekalian mo konsultasi. Entah alasan aja ato emang bener-bener mo konsultasi, akhirnya mereka ketemuan. Dan waktu itu, dengan status masing-masing yang udah beda, sama-sama single;) Entah karena status masing-masing yang udah single ato apa, ternyata cowoknya nembak teman saya itu dan bilang kalo dia mo serius. Keseriusannya dibuktikan dengan 1 bulan kemudian langsung ngelamar teman saya. dan dalam hitungan 6 bulan, mereka berjibaku nyiapin segala tetek bengek pernikahan, dan akhirnya mereka menikah. Dengan waktu yang cuma 6 bulan itu, teman saya sebenarnya takut difitnah, takut dibilang hamil duluan, soalnya kan buru-buru banget tuh. Tapi mereka cuek aja, Orang-orang kan hanya bisa menjudge, tanpa tahu apa yang terjadi. Begini salah, begitu salah, kalo mo mikirin kata orang terus, kita jadi takut untuk maju, biar waktu yang akan membuktikan. Dan menikahlah mereka.
Sekarang usia pernikahan mereka udah 7 bulan. Dan mereka belum dikasih kepercayaan sama Tuhan untuk memiliki anak. Sebenarnya masih terlalu dini untuk memikirkan kenapa belum juga dikaruniai anak ato mungkin masih dikasih waktu untuk ber honey moon ria;) Tapi karena penasaran dan juga sering dibombardir pertanyaan “udah hamil belum?”, akhirnya mereka konsultasi ke dokter. Oleh dokternya, mereka disarankan untuk memeriksakan diri ke lab. Waktu itu, si istri ada perasaan takut, gimana seandainya jika hasil pemeriksaan lab itu menyatakan bahwa ada yang salah di antara mereka berdua. Apakah masing-masing masih mau menerima apa adanya? Dan terlalu banyak “bagaimana seandainya” yang lain. Tapi si istri tetap berusaha tenang dan emang belum berani untuk membicarakan hal tersebut ke suaminya. Apa yang terjadi, terjadilah pikir dia. Ternyata…..suaminya juga punya perasaan yang sama. Dan sebelum mereka berangkat ke lab, suaminya ngomong kayak gini (this is the best part!)
“ De, apapun hasil lab nya nanti, apapun yang akan terjadi, mas akan tetap menerima ade apa adanya.”
So sweeeeeeeeeeeeeeet!!!!!! Isn’t that lovely? Saya aja yang cuma dengar ceritanya terharu banget. Hare gene, udah jarang loh cowok yang akan se gentle itu. Yah, semoga saja suami saya kelak bisa se gentle ini;)
Lagian emang semua pasangan harus bisa menerima pasangannya apa adanya. Karena ketika mereka berjanji di depan Tuhan, itu berarti mereka mau menerima pasangannya itu apa adanya. Apapun yang terjadi. Bukan cuma mau menerima kebaikannya tanpa mau mengerti kekurangannya.
PS.
Alhamdulillah, dari hasil pemeriksaan lab nya mereka berdua normal aja. Tinggal menunggu waktu untuk dikasih kepercayaan ma Tuhan.